Home / berita umum / Volume Menyusut, Aliran Air dari Waduk Malahayu ke Saluran Irigasi Dihentikan

Volume Menyusut, Aliran Air dari Waduk Malahayu ke Saluran Irigasi Dihentikan

Volume Menyusut, Aliran Air dari Waduk Malahayu ke Saluran Irigasi Dihentikan – Akibat musim kemarau yg berkesinambungan, udah sebabkan volume air waduk Malahayu di Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah berkurang serta cuma tersisa 800 ribu liter. Saluran air dari waduk ke sawah petani udah dihentikan menimbulkan petani tidak sukses panen.

Waduk paling besar di Kabupaten Brebes ini punyai daya tampung 32 juta liter. Ada lima sungai sebagai pensuplai air di waduk ini, semasing Sungai Cigora, Cihalimun, Cicacaban, Sindanghayu, serta Ciomas.

Kemarau panjang yg menimpa lokasi Brebes udah sebabkan debet air lima sungai itu menyusut. Cadangan air di waduk Malahayu ini lantas turut berkurang mencolok.

Kepala Dinas Pengairan Sumber Daya Air serta Penyusunan Area (DPSDAPR) Kabupaten Brebes, Agus Ashari mengemukakan, volume air waduk 800 ribu mtr. kubik air sekarang udah dibawah ujung batas sekurang-kurangnya atau distorage ialah 2 juta mtr. kubik. Atas pertimbangan volume itu, saluran air dari waduk ke aliran irigasi dihentikan.

” Mesti dihentikan salurannya. Lantaran memang volumenya kurang dari 2 juta liter. Ini dapat beresiko bila terus disalurkan lantaran volume terus akan menyusut. Ketentuan ini malahan buat mengamankan fisik bendungan. Apabila senantiasa menyusut, bakal terdapat resiko berlangsung retakan retakan bangunan bendungan, ” kata Agus Ashari selesai tinjau situasi waduk Malahayu, Senin (8/10/2018) .

Ada 12. 378 hektar area pertanian yg terdampak dari dihentikannya saluran waduk. Ruangan pertanian itu ada di Kecamatan Banjarharjo, Ketanggungan, Kersana, Tanjung serta Losari. Ruangan ini bakal alami kekeringan lantaran tak dapatkan suplai air.

” Dari waduk Malahayu, air kebanyakan didistribusikan lewat tiga bendung, ialah Nambo, Cisadap serta Cibendung. Dari bendung ini lantas disalurkan ke aliran serta sawah petani, ” urai Agus Ashari.

Sejak mulai air waduk tak disalurkan, ruangan sawah petani banyak yg terserang resikonya. Di Kecamatan Kersana umpamanya, area bawang merah serta cabai terancam tidak sukses panen.

Tokoh petani, Sudirman Said menilainya situasi ini butuh perlakuan serius. Tidak cuman tengah hadapi permasalahan harga komoditas yg jatuh, pun ada kekeringan.

” Membutuhkan perlakuan serius. Sisi hulu butuh dihijaukan, serta sungai sungai dinormalisasi. Hingga kala musim kemarau tetap punyai cadangan air, ” jelas Sudirman Said.

Sudirman menyebutkan, petani sekarang tengah menanggung derita kerugian yg besar. Apabila dihitung dari bibit, tenaga kerja serta ongkos beda, rata-rata kerugian yg di alami capai Rp45 juta tiap-tiap seperempat hektar.

About admin