Home / berita umum / Pelaku Utama Sudah Di Tetapkan Dan Ganti Rugi

Pelaku Utama Sudah Di Tetapkan Dan Ganti Rugi

Pelaku Utama Sudah Di Tetapkan Dan Ganti Rugi – PT Kallista Alam didenda Rp 366 miliar lantaran dapat dibuktikan membakar tempat seluas 1. 600 hektare. Perusahaan sawit itu pada awal mulanya telah mengelola tempat disana seluas 7. 000 hektare. Letak ke-2 tempat itu cuma bersebelahan dengan kanal.

Tempat perkebunan sawit PT Kallista Alam itu terdapat di Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, Aceh. Untuk masuk kesana, mesti melalui pos kontrol. Sesudah memperoleh izin serta palang pintu di buka, lalu bisa jalan dengan menyusuri jalan diantara pohon-pohon sawit.

Bentuk pohon sawit yang ditanam di perkebunan itu tidak sama dengan sawit biasanya. Batang pohon tak ada yang lurus dengan kata lain bengkok. Hal semacam ini diprediksikan lantaran sawit ditanam di tempat gambut. Diluar itu, tempat penanaman sawit dibagi ke blok-blok serta cuma dipisah dengan kanal.

Sebagian pekerja tampak ada di seputar pohon sawit. Diluar itu, sebagian alat ada di tempat untuk bersihkan tempat serta lakukan aktivitas yang lain. Didalam tempat perkebunan itu, juga ada tempat tinggal yang ditujukan untuk pekerja.

Masuk ke, ada rencanag yang dipajang didalam blok. Rencanag ini bertuliskan ” Tanah itu punya PT. Kallista Alam tanggal 24 Juni 1997 HGU Nomer : 49/HGU/BPN/97 “. Pada sebagian blok tempat, tampak PT Kallista Alam belum juga menanam sawit.

” Tempat seluas 7. 000 hektare itu tak punya masalah serta tak berkonflik. Yang punya masalah cuma tempat yang luasnya 1. 600 hektare, ” kata Yusri, staff Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh, Senin (25/6/2018) kemarin.

Untuk menuju ke tempat seluas 1. 600 hektare, mesti jalan kaki seputar 20 menit. Jalan kesana juga muat ukuran satu mobil. Tetapi lantaran kontur tanah yang lembek, dikhawirkan mobil tak melalui kesana. Di tempat 1. 600 hektare itu, saat ini tiga blok telah ada pohon-pohon sawit.

” Yang 1. 600 hektare itu tempat yang di buka baru oleh PT Kallista Alam. Yang terbakar saat itu tempat itu, ” tuturnya.

Menurut dia, tempat seluas 1600 hektare yang dibakar pada th. 2010 serta diperkarakan pada 2012 ini saat ini berstatus punya negara. Semestinya, di tempat itu tak bisa dikuasi oleh grup atau perseorangan. Diluar itu, tempat itu juga tak bisa dikerjakan serta mesti dikembalikan jadi rawa gambut.

Direktur Walhi Aceh Muhammad Nur, mengharapkan tanah 1600 hektare yang pada awal mulanya dibakar ini semestinya dihutankan kembali serta jadi lokasi konservasi. Namun saat ini, di tempat itu telah terdapat banyak pihak yang kuasai.

” Namun dengan keadaan hari itu tanah ini terkelola kalau ada koperasi, ada bekas kombatan GAM yang kuasai. Yang kita saksikan sampai kini yaitu peranang masalah tanah. Jadi tanah ini jadi rebutan, ” kata Muhammad Nur.

” Bila kami lihat ini pada rebutan tanah. Jadi yang nampak malah bukanlah pada perkara pidana atau perdata. Kalau sengketa tanah ini perkara pidana atau perdata ini iya, namun orang melupakan masalah hukum saat ini lebih terjerat pada penguasaan tanah, ” ungkap Nur.

Nur mengharapkan tempat seluas 1. 600 ini agar di hutankan kembali serta pengelolaannya dibawah Dinas Kehutanan Aceh. ” Dia mesti meyakinkan betul-betul berhutan, lantaran tanah yang terlantar demikian tentu ada usaha sawit baru yang kepemilikannya dari petani ataupun koperasi. Diluar HGU tentu ada petani, ” ungkap M Nur.

Terakhir, denda Rp 366 miliar ini dianulis oleh PN Meulaboh. Dunia hukum geger, kok dapat PN menganulir vonis MA. Pemerintah tidak terima serta ajukan banding

About admin