Home / Uncategorized / AURI Kerahkan Beberapa Pesawat Untuk Bekerja Di Air Straffing

AURI Kerahkan Beberapa Pesawat Untuk Bekerja Di Air Straffing

AURI Kerahkan Beberapa Pesawat Untuk Bekerja Di Air Straffing – Panglima Kodam Brawijaya Mayjen M Jasin pada Juni 1968 mengadakan operasi militer dengan sandi Operasi Trisula untuk menumpas sisa-sisa pentolan serta pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang buat basis di Blitar Selatan. Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18 pertama Kolonel Inf Witarmin ditunjuk jadi pemimpin Operasi Trisula.

Sebagian pentolan PKI yang turut gabung di Blitar Selatan salah satunya Sabandi Rewang Parto, bekas anggota Politbiro Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) ; Oloan Hutapea ; serta Sukatno, bekas Ketua Pemuda Rakyat. PKI di Blitar Selatan mengadakan Sekolah Perlawanan Rakyat (SPR) serta Pelatihan Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Operasi Trisula adalah operasi paduan, hingga TNI mengerahkan kemampuan besar-besaran untuk memukul beberapa pemberontak. Tentara menyisir lokasi rimba Blitar Selatan untuk mencari pemberontak yang bersembunyi di gua-gua.

Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), saat ini TNI Angkatan Udara, turut ambillah sisi dalam Operasi Trisula. AURI diwakili Komando Lokasi Udara IV serta segera dibawah pimpinan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar.

Berdasarkan Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968, untuk mendukung operasi ini dibuat satu task force Operasi Elang dengan pekerjaan paling utama memberi pertolongan baik di darat ataupun dari udara.

Pertolongan operasi udara berbentuk pertolongan taktis, yaitu bombing, straffing, serta rocketting, dari udara, untuk mempersempit ruangan contoh gerombolan PKI. AURI mengerahkan beberapa pesawat, yakni 2 pesawat pemburu P-51 Mustang, satu pengebom B-26 Invader, serta satu pesawat AT-16 Harvard. Pada 10 Juli 1968 dikerjakan air straffing dengan senjata 12, 7 pada kubu-kubu lawan.

” Proses operasi penghancuran dikerjakan dengan penembakan-penembakan roket serta senapan mesin 12, 7 mm dari udara pada tujuan di areal yang luas di lereng-lereng gunung dengan rimba yang begitu lebat di selama pantai selatan Blitar, ” sekian ditulis dalam buku Perjuangan TNI AU.

Pengebom B-26 Invader cukup efisien lakukan penembakan serta pengeboman dari udara. Si Moncong Hiu ini diperlengkapi 14 senapan mesin berat (SMB) Browning AN-M3 kaliber 12, 7 mm, 8 roket, serta 8 bom seberat 227 kg. Dengan 14 SMB, pengebom B-26 dapat melakukan misi COIN (counter-insurgency) atau anti gerilya.

B-26 bukanlah saja memberi pertolongan tembakan udara untuk pergerakan tempur pasukan darat, namun juga lakukan serangan udara segera untuk buka jalan serta memberi perlindungan udara helikopter yang juga akan mendorong logistik ke tempat pasukan di darat.

Sebab, pada Operasi Trisula AURI juga mengerahkan pesawat angkut militer C-130 B Hercules serta helikopter Mi-4. Pesawat ini pekerjaan intinya membuat pengangkutan udara untuk kepentingan pengangkutan pasukan, logistik, survey, serta VIP flight.

Komando Pasukan Contoh Tjepat (Kopasgat), saat ini di kenal Pasukan Ciri khas TNI AU (Paskhas), ikut serta dalam Operasi Trisula. Dalam mensupport operasi ini Korps Baret Jingga ini mengerahkan satu kompi pasukannya dari Resimen III di bawah pimpinan LU II Wim Mustamu.

Gerombolan PKI yang awal mulanya bersembunyi di beberapa rimba sangat terpaksa meninggalkan persembunyiannya serta berubah ke arah utara. Disana telah siap tim penyapu dari darat hentikan mereka. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati serta 850 orang pengikut PKI di tangkap sepanjang tiga bulan operasi.

Jadi tanda peringatan penumpasan PKI ini, jadi di daerah Bakung, Kabupaten Blitar Selatan yang jadikan Markas Komando operasi ini dibangun monumen yang dinamakan Monumen Trisula. Monumen Tugu Trisula dibuat serta diresmikan pada 18 Desember 1972 oleh Deputi Kasad Letjen TNI M Jasin.

About admin